#navbar-iframe { height:0px; visibility:hidden; display:none }

Rabu, 10 Februari 2010

FIGUR PEMIMPIN IDEAL

0 komentar

Kepemimpinan merupakan kebutuhan asasi manusia sebagai makhluk sosial. Tanpa ada kepemimpinan, maka tatanan kehidupan masyarakat akan kacau. Pemimpin yang jujur, amanah, adil dan peduli rakyat adalah dambaan masyarakat. Itulah sebabnya seorang Irwandi, Gubernur Aceh, berani menghabiskan uang begitu banyak untuk mengadakan fit and proper test (uji layak kelayakan dan kepatutan), hanya untuk mencari figur pemimpin institusi Pemerintahan Aceh yang berkualitas. Dalam konteks Aceh, ini suatu terobosan baru dalam penjaringan pemimpin (kepala dinas).

Belakangan ini, banyak ditemukan pemimpin yang cerdas akal tapi “tidak cerdas hati” terjebak dalam perilaku menyimpang dan bersikap hedomistik buat memuaskan hawa nafsu pribadi, keluarga dan kelompoknya. Kasus seperti suap, korupsi, illegal logging dan mesum adalah realita serangkaian maksiat yang dilakukan oknum berdasi dan terhormat.

Hampir setiap hari dalam surat kabar diberitakan penyalahgunaan jabatan dan kekuasaan oleh pemimpin suatu daerah, instansi (dinas) pemerintahan dan lembaga swasta lainnya, khususnya di Aceh. Adanya kasus korupsi yang dilakukan oleh para pejabat dan mantan pejabat di daerah Aceh mulai dari gubernur, bupati, kepala dinas dan instansi/badan pemerintahan lainnya pada masa kepemimpinannya menjadi berita headline yang menghiasi media cetak saat ini. Semakin gencar pemerintah pusat mengkampanyekan slogan anti korupsi, semakin banyak pula koruptor baru yang lahir, bahkan secara jama’ah pula. Mereka berlomba-lomba untuk memperkaya diri selama masih mempunyai kesempatan tanpa ada rasa malu kepada Allah Swt dan masyarakat. Ini menunjukkan bahwa moral pemimpin kita pada titik nadi yang paling rendah. Tidak ada sifat jujur, amanah, adil dan malu merupakan faktor utama terjadinya korupsi dan praktek maksiat lainnya. Fenomena krisis figur kepemimpinan seperti ini sangat memprihatinkan.
Oleh karena itu, bulan maulid merupakan momentum yang tepat bagi pemimpin saat ini untuk menjadikan Rasulullah saw sebagai figur dan panutan dalam memimpin dan bermuhasabah (introspeksi diri) sejauh mana mereka memberi kesejahteraan dan “keberkahan” bagi rakyat di masa kepemimpinannya. Konon lagi, pemilu 2009 sudah diambang pintu. Tinggal hitungan hari. Maka, kita hendaklah nantinya memilih figur pemimpin yang ideal dan bermoral seperti Rasulullah saw. Kita tidak ingin mengulang kesalahan dalam memilih pemimpin, yang efeknya dapat merugikan negara dan menyengsarakan rakyat dalam rentang waktu yang cukup lama.

Figur Teladan
Sebagai ummat Nabi saw, kita diperintahkan oleh Allah Swt untuk mentaati dan mengikuti Nabi saw dengan mengamalkan sunnahnya dalam kehidupan sehari-hari. Allah swt berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad) dan ulil amri (penguasa) di antara kamu”. (QS. An-Nisa’: 59).

Rasul saw adalah seorang hamba Allah yang memiliki akhlak mulia. Sosok kepribadian beliau yang agung merupakan aplikasi dari ajaran Al-Quran. Ibaratnya, beliau adalah Al-Quran yang berjalan. Memang, karena Aisyah ra sendiri menegaskan bahwa akhlak Rasulullah saw adalah Al-Quran. Bahkan Allah swt telah memuji akhlak beliau yang agung sekaligus memberikan rekomendasi bagi manusia sekalian untuk menjadikannya figur teladan dalam kehidupan ini, sebagaimana firman-Nya: “Sesunggguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah suri tauladan bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan dia banyak menyebut Allah” (Al-Ahzab: 21). Hal ini ditegaskan pula di dalam ayat yang lain mengenai keagungan dan kemuliaan budi pekerti: “Sesunggguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang luhur” (Al-Qalam: 4).

Luar biasa..Predikat dan pujian ini langsung datang dari Allah Swt, karena akhlak beliau yang mulia. Maka tidak heran bila dalam waktu yang relatif singkat, beliau berhasil berdakwah dan menegakkan syariat Islam di muka bumi ini, dengan membawa peradaban Islam yang mulia dan terhormat menggantikan peradaban jahiliah yang hina dan zalim. Inilah rahasia kesuksesan dakwah Rasulullah saw yaitu akhlak mulia.

Dari konteks inilah, tak heran bila Mikhail H Hart, dalam buku fenomenalnya The 100 a Rangking of The Most Influential Persons in History (Seratus Tokoh Paling Berpengaruh dalam Sejarah;1978) menempatkan Nabi Muhammad SAW sebagai pada urutan pertama sebagai tokoh paling berpengaruh sepanjang sejarah manusia. Menurut Hart, Muhammad, Muhammad adalah satu-satunya yang berhasil meraih keberhasilan luar biasa baik dalam agama maupun hal duniawi. Dia memimpin bangsa yang awalnya terbelakang dan terpecah belah, menjadi bangsa maju yang bahkan sanggup mengalahkan pasukan Romawi di medan pertempuran.

Karakter Sosok Pemimpin Ideal
Muhammad SAW di samping sebagai seorang Rasulullah, beliau juga sosok pemimpin yang ideal dan sejati. Sebagai seorang pemimpin, beliau memiliki ketauladanan yang baik yang patut dicontoh oleh pemimpin kita saat ini.

Beliau adalah seorang pemimpin yang jujur, amanah dan adil, bukan pemimpin yang korup, nepotisme dan zalim. Beliau seorang pemimpin yang berani menegakkan “syariat Islam” di muka bumi ini, membela kebenaran dan menghancurkan kebatilan, bukan pemimpin pengecut dan takut kehilangan jabatan dan kekuasaannya. Sosok seorang pemimpin yang dermawan, pemurah dan peduli rakyat (umatnya), bukan pemimpin yang kikir dan hanya memperkaya diri sendiri dan keluarganya.

Beliau adalah pemimpin yang wara’ dan bertakwa, bukan pemimpin yang fasiq dan munafiq. Seorang pemimpin yang rendah diri dan tawadhu’, bukan pemimpin yang sombong dan angkuh. Seorang pemimpin yang murabbi (pendidik) dan muallim (pengajar), bukan yang hanya pandai bicara dan perintah saja. Ketika menasehati dan memberi ilmu, maka beliaulah yang pertama yang mengamalkan ilmu dan nasehatnya. Sosok pemimpin yang sederhana dan zuhud, bukan pemimpin yang hidup mewah dan menghambur-hamburkan uang rakyat untuk kepentingan pribadi, keluarga dan golongannya.

Bukan hanya itu, beliau adalah orang yang paling takut dan bertakwa kepada Allah. Setiap harinya beliau bertistighfar dan bertaubat sebanyak lebih tujuh puluh kali (H.R. Bukhari), dalam riwayat yang lain disebutkan seratus kali (H.R Muslim). Padahal, kalaupun ada kesalahan dan dosa, maka telah diampuni Allah sebelum dan sesudahnya, bahkan beliau adalah seorang manusia yang telah dijamin Allah masuk surga. Ditambah lagi dengan ibadahnya yang sungguh-sungguh dan berkualitas memberi motivasi dan menjadi contoh bagi umatnya. Inilah pemimpin yang ideal yang tidak hanya memancarkan kesalehan pribadi, tapi juga kesalehan sosial.

Nah, bagaimana dengan karakter pemimpin kita saat ini? Sudahkah pemimpin kita menjadikan Rasulullah sebagai panutan dan model kepemimpinan mereka? Kita sangat mendambakan karakter pemimpin ideal seperti Rasulullah SAW dan para khulafaur rasyidin. Tidak ada kata mustahil menjadi seorang pemimpin ideal seperti Rasulullah. Sejarah mencatat bagaimana kepemimpinan para khulafaur rasyidin, Muawiyah, Umar bin Abdul Azis, Harun Ar-Rasyid, Salahuddin Al-ayyubi dan para pemimpin Islam lainnya pada zaman kekhilafan Islamiah, yang telah membawa Islam kepada puncak kejayaan kejayaan dan zaman keemasan. Kuncinya, mereka mencontoh dan menerapkan model kepemimpinan Rasulullah SAW. Al Quran dan Hadits adalah pedoman dalam kehidupan mereka.

Allah SWT memerintahkan kita untuk mengikuti dan mentaati beliau. Selain itu, beliau memang diutus dan dijadikan Allah sebagai sosok figur dan suri tauladan bagi umatnya. Beliau adalah manusia biasa seperti kita, bukan malaikat (QS. Al-Kahfi: 110). Maka tidak ada kata mustahil meneladani beliau. Selama ada kemauan, pasti ada jalan.

Sebagai penutup, marilah kita menjadikan peringatan maulid ini sebagai momentum untuk introspeksi diri sejauh mana kita mencintai Rasul dan menjadikannya sebagai figur dan model pemimpin kita. Kita berharap kepada para pemimpin kita agar dapat menjalankan amanah dengan baik dan bertakwa kepada Allah SWT, karena setiap pemimpin akan diminta pertanggungjawabannya di pengadilan akhirat nantinya. Semoga para pemimpin kita diberi taufik dan hidayah oleh Allah SWT agar dapat mencontoh Rasulullah SAW dan menjadi pemimpin yang dicintai rakyat. Dan semoga kita termasuk orang-orang yang mencintai dan dicintai Rasulullah dengan menghidupkan sunnahnya dan menjadikannya qudwah hasanah (suri tauladan), terutama untuk memilih figur seorang pemimpin saat ini.

Oleh M. Yusran Hadi, Lc., MA, Dosen fakultas Syariah IAIN Ar-Raniry, Direktur TB. Madinah B. Aceh.
ReaD MorE...

Minggu, 07 Februari 2010

Dakwah Islam di Penjara AS

0 komentar

Dakwah Islam di Penjara-Penjara AS, Banyak Tahanan Masuk Islam
Para tahanan di lembaga pemasyarakatan Monroe Correctional Complex, AS dengan tertib keluar sel masing-masing begitu mendengar pengumuman dari pengeras suara bahwa waktu istirahat tiba. Para tahanan bergerombol memanfaatkan waktu istirahat mereka dengan menghadiri sejumlah kelas bimbingan atau sekedar membaca buku ke perpustakaan. Tapi diantara mereka, ada sekelompok tahanan yang mengenakan peci berbentuk bulat, menuju ke sebuah ruangan yang tak berjendela.

Mereka membuka sepatu sebelum masuk ruangan, kemudian duduk sambil melemaskan kaki mereka di atas karpet tipis yang digelar di ruangan tersebut. Ya, mereka adalah para tahanan yang beragama Islam yang biasanya mendapatkan layanan rohani dari ustadz pembimbing mereka. Kebanyakan para tahanan itu adalah para mualaf, yang masuk Islam saat menjalani hukumannya di penjara.

"Penjara bisa menjadi kuburan atau menjadi rahim," kata mereka. Para penghuni penjara punya pilihan apakah akan menghabiskan waktuny di dalam penjara dengan meratapi nasibnya atau memanfaatkan waktu untuk meredam rasa marah atau rasa takut bahkan rasa putus asa yang mendera diri mereka. Dan Anthony Waller, salah seorang tahanan memilih pilihan kedua. Seperti banyak Muslim lainnya di kawasan Twin Rivers, Waller masuk Islam ketika berada di balik jeruji besi penjara.

Setelah mengucapkan dua kalimat syahadat, Waller mengaku kehidupannya banyak berubah. "Kalau saya tidak menjadi seorang Muslim, saya kemungkinan masih berada dalam pengawasan ketat atau mungkin saya sudah mati," ujar Waller,31, seraya mengatakan betapa ketatnya penjagaan dan kontrol di penjara.

Masa hukuman Waller baru akan berakhir tahun 2033. Selama di dalam penjara Waller menghadiri bimbingan rohani Muslim setiap seminggu sekali dengan belasan tahanan Muslim yang lebih dulu menjadi mualaf. Dan ternyata "kelompok Muslim" adalah kelompok yang paling cepat berkembang di sejumlah lembaga pemasyarakatan di AS, artinya, jumlah tahanan yang masuk Islam bertambah dengan cepat.

Bimbingan rohani Islam di penjara-penjara AS dimulai pada era tahun 1970-an atas prakarsa pemimpin organisasi Muslim Nation of Islam, Louis Farrakhan. Profesor di Vassar College, Lawrence Mamiya yang meneliti keberadaan tahanan Muslim di penjara-penjara AS mengatakan, keterlibatan para imam Muslim di AS sangat efektif dalam upaya rehabilitasi keagamaan para tahanan.

Menurut Mamiya, dipekirakan 10 persen dari seluruh tahanan yang ada di penjara AS memilih masuk Islam. Itu artinya, sekitar 1.800 dari 18.000 jumlah tahanan di penjara-penjara AS menjadi seorang Muslim. Tapi, kata Mamiya, hanya satu dari lima mualaf yang masuk Islam selama di penjara tetap menjaga keislamannya setelah menghirup udara bebas. Hal ini membuat sejumlah pengamat di AS berpendapat bahwa "Islam di Penjara" bukan sebuah gerakan religius tapi lebih pada taktik yang dilakukan oleh sebuah genk di dalam penjara yang ingin mendapatkan perlakuan khusus atau istimewa, antara lain diberikan ruang tersendiri yang dilengkapi karpet.

Daya Tarik Islam

Namun pendapat itu dibantah oleh sejumlah imam yang sering memberikan layanan rohani di penjara. Mereka mengatakan bahwa banyak diantara para mualaf di tahanan yang memang tulus ingin menjadi seorang Muslim.

Faheem Siddiq, yang sudah lebih dari lima tahun memberikan bimbingan rohani Islam di sejumlah lembaga pemasyarakatan di AS mengungkapkan, tahanan yang masuk Islam kebanyakan tahanan dari kalangan keturunan Afrika Amerika. Mereka tertarik masuk Islam, kata Siddiq, karena ajaran Islam yang tentang kedisiplinan dan kesetaraan antara sesama manusia.

"Di negara bagian Washington, dari Walla Walla sampai McNeil Island, mayoritas mualaf adalah kalangan warga Amerika keturunan Afrika yang berpendapatan rendah, mereka punya kesempatan di tengah situasi yang tenang untuk melakukan introspeksi dan mengubah kehidupan mereka," kata Siddiq.

Profesor Mamiya juga mengakui tahanan Muslim lebih memiliki rasa tanggung dan disiplin. Tahanan Muslim juga saling melindungi dan rasa setia kawan yang tinggi, mengingat kehidupan penjara yang keras. Namun, kata Mamiya, tahanan Muslim memahami Islam mengajarkan etika ketika seseorang harus mempertahankan diri.

"Ajaran ini yang menjadi salah satu daya tarik bagi para tahanan untuk memeluk Islam," kata Mamiya.

Setiap tahanan yang memilih menjadi seorang Muslim, punya alasan masing-masing. Salah seorang tahanan yang masuk Islam sejak 11 tahun yang lalu, Walter Taylor menuturkan kisahnya mengapa ia memilih menjadi seorang Muslim.

"Dalam agama Kristen, Yesus Kristus mati untuk menebus dosa. Dalam Islam, tidak dikenal penebusan dosa, tidak ada yang dikambinghitamkan untuk menebus dosa," kata Taylor.

Setelah menjadi seorang Muslim, bersama dengan tahanan Muslim lainnya, Taylor selalu berusaha menunaikan kewajiban salat lima waktu setiap hari. Salat bagi Taylor, ibarat pengingat yang menuntunnya untuk tetap di jalan yang lurus, jalan Islam.

Lain lagi pengalaman Phil Thomes, ia mengatakan,"Menjadi seorang Muslim adalah hal tersulit yang mungkin bisa Anda lakukan. Menjadi seorang Kristiani saja tidak cukup. Sekarang, Islam total menjadi cara hidup saya, yang memang ingin melakukan perubahan"

"Saya bukan orang yang jahat lagi. Saya benar-benar sudah menjadi orang yang baru," tukas Thomes yang sudah menjalani masa tahanan selama 12 tahun.

John Barnes, yang juga menjadi pembimbing rohani di penjara-penjara AS mengatakan, kebanyakan tahanan yang pindah ke agama tertentu menunjukkan perubahan yang drastis selama berada dalam penjara.

"Mereka mengubah karakter mereka. Mereka lebih bertanggung jawab, tidak egois dan mau berbaur serta terlibat dalam tim. Saya sering melihat perubahan itu," ujar Barnes. (ln/isc/Heraldnet)
http://eramuslim.com/berita/dakwah-mancanegara/dakwah-islam-di-penjara-penjara-as-banyak-tahanan-masuk-islam.htm
ReaD MorE...

Sabtu, 06 Februari 2010

Etika Tharekat

0 komentar

Antara Murid Dan Guru
Dr. Hj. Ummu Salamah


Setiap murid tidak boleh tergesa gesa dalam segala hal. Kaidah hidup yang mengingatkan: “tidak pernah menyesal orang yang istikharah, menyerahkan pilihan akhiratnya kepada Allah, dan tidak pernah rugi orang yang musyawarah”, harus senantiasa menjadi acuan dalam mengambil setiap keputusan penting. Karenanya, seorang murid tidak boleh tergesa-gesa mentadbir dan mengambil kesimpulan mengenai masalah masalah unik yang bersifat spiritual yang menimpanya. Ia harus menyampaikannya kepada guru untuk mendapat pertimbangan. Jika belum terjawab, ia harus diam dan menunggu, karena ia yakin bahwa diamnya guru dalam masalah unik spiritual ini memiliki makna hikmah yang bernilai luhur. Boleh jadi, rentang waktu dan peluang kesempatan lebih memiliki makna kearifan ketimbang ketergesa-gesaan.

Setiap murid harus merendahkan suara di majelis gurunya. Ia tidak boleh menunjukkan sikap dan perilaku tercela serta tidak pantas. Ia tidak boleh meninggalkan majelis guru untuk pulang sebelum waktu. Ia harus menyimak perkataan guru, serta setiap isyarat yang disampaikan oleh gurunya dengan ikhlas dan kearifan. Ia tidak boleh membebani guru dengan berbagai pertanyaan dan informasi yang memusykilkan dan cenderung memberatkan guru.
Setiap murid harus menjaga perasaan gurunya berkenaan dengan keyakinan, hati nurani dan kejiwaannya. Ia tidak boleh menantang wajah guru, agar tidak tertutup hikmah dan kearifan yang terpancar dari cahaya kerahmatan. Suatu dialog antara murid dengan guru, antara murid dengan sesama, dan antara murid dengan masyarakat luas harus mencitrakan suasana dan rona kritis, namun santun, serta penuh kehangatan dan keakraban. Suatu polemik yang tidak etis dan tak terpuji, akan menyebabkan tertutupnya hikmah Ilahiyah dan kearifan yang senantiasa menaungi setiap majelis ilmu.
Setiap murid tidak boleh menukil atas nama dirinya terhadap setiap pernyataan tanpa menyebutkan sumbernya. Ia juga tidak boleh menukil pemyataan guru atas nama dirinya, dan ia boleh menyampaikannya sekedar untuk kepentingan seiring dengan pernahaman orang yang diajak bicara, dan telah mendapat izin untuk disebarkan oleh gurunya. Ia senantiasa harus menjaga kejujuran moral dan intelektual, serta integritas keilmuannya.
Setiap murid tidak boleh menyembunyikan misteri, rahasia spiritual dirinya di hadapan guru. Ia harus meyampaikan dan menjelaskan pengalaman spiritualnya kepada guru secara komprehensip (terbuka), tulus dan jujur. Ia harus memaparkan dengan sungguh-sungguh setiap kata hati, kasyaf, karomah, dan keseluruhan upaya spiritualitasnya kepada guru.
Setiap murid tidak boleh memperlakukan guru semaunya. Ia tidak boleh menghadap guru mendadak tanpa mengenal waktu. Ia tidak boleh menghadap guru ketika guru dalam keadaan sibuk atau istirahat. Jika murid mempunyai kepentingan dengan guru jangan sekali kali menyuruh orang lain. Ia tidak dibenarkan mengganggu dan merepotkan guru dengan membebani kehidupan, dan jika berbicara dengan guru hendaknya mengenai hal-hal yang lebih memiliki makna pencerahan dan menyenangkan. Ketika ia berbicara dengan guru, pembicaraanya hendaknya penuh perhatian dan beradab sopan santun.
Jangan sekali kali menggunjing, mengolok olok, mengumpat, mengkritik, dan menyebarluaskan aib guru kepada orang lain. Murid tidak boleh gundah atau menyesali kepada guru, jika guru menghalangi maksud dan tujuan murid. Murid harus yakin dan sadar, bahwa setiap keputusan guru mengandung kearifan dan hikmah yang luas. Murid hendaknya menjaga kehalusan budi dan jiwa guru, agar senantiasa terpancar cahaya rahmaniyah hati guru kepadanya. Hubungan guru dengan murid dengan paradigma bahwa setiap mukmin adalah cermin terhadap sesama.
Apabila guru memerintahkan sesuatu, murid harus melaksanakannya, walaupun terasa berat menurut pertimbangan nafsunya. Murid harus yakin dan sadar bahwa setiap perintah guru mengandung inti kearifan dan hikmah yang luas. Jika murid mengundang guru hadir di tempat tinggalnya, jangan sekali kali memaksa. Tetapi mintalah sesuai dengan kelonggaran dan keleluasan yang menyenangkannya. Apabila guru tidak bisa hadir secara pribadi, maka murid harus yakin, bahwa rohani guru dan do’a restunya hadir di tempat murid. Hati murid senantiasa diliputi rasa bahagia dan rasa senang kepada guru dan keluarganya.
Jangan sekali kali mengucapkan perkataan: “dahulu adalah guruku, dan sekarang bukan”. Jangan sekali-kali menyebut mantan guru kepada gurunya, karena ia bukan muridnya lagi. Jangan berseberangan dengan guru karena sesuatu kesalahan yang lalu dari guru kepadanya. Apabila guru wafat, murid tidak boleh mengawini janda gurunya. Jika ia ingin berkhidmat, bisa mengawini dengan salah seorang anaknya. Anggaplah anak guru sebagai saudara. Sesungguhnya, guru adalah bapak spiritual, sedangkan bapak kandung, adalah bapak jasmani fisik.
Tradisi dan akhlak tarekat juga dipelihara melalui peneguhan tatakrama adab dan sopan santun kepada sesama ikhwan. Intinya adalah memancarkan kesejatian persaudaraan yang digambarkan oleh nabi Muhammad s.a.w., yaitu: “Perumpamaan dua orang bersaudara adalah sebagaimana dua tangan, ia saling membersihkan antara satu dengan yang lainnya. ” Dan, ” seorang mukmin dengan mukmin yang lain, bagaikan bangunan yang satu dengan yang lain saling menyangga.” Seseorang harus tetap menjaga harkat, martabat dan kehormatan sesama ikhwannya (saudara) ketika ia hadir atau tidak. Seseorang harus menjaga perasaan sesama ikhwannya terhadap siapa dan apa yang tidak disukainya, sebagaimana juga ia menginginkan sikap itu dari sesama ikhwannya.
Setiap murid, hendaknya berusaha agar senantiasa menyenangkan sesama ikhwannya dengan sesuatu yang menyenangkan dirinya, dan sama sekali tidak boleh mengistimewakan dirinya. Apabila bertemu sesama ikhwan, segera ucapkan salam, mengajak berjabat tangan dan bermesra mesraan, serta bermanis manis kata, serta mempergauli mereka dengan akhlak mulia. Perlakukan mereka sebagaimana dirinya sendiri ingin, atau suka diperlakukan. Selanjutnya merendah hati dan merunduk dengan santun kepada mereka.
Usahakan agar mereka senantiasa suka. Pandanglah mereka dengan lebih berperhatian dan lebih baik ketimbang dirinya sendiri. Menghidup hidupkan tolong menolong dalam kebaikan dan kebajikan atas dasar taqwa dan cinta kepada Allah. Tentunya, tidak tolong menolong dalam mengembangkan permusuhan. Apabila berhadapan dengan yang lebih tua, mintalah bimbingannya, dan jika berhadapan dengan yang lebih muda, bimbinglah. Santun dan lemah lembut dalam menyapa dan menasehati sesama ikhwan. Jangan berperasangka, lebih lebih berperasangka buruk kepada sesama ikhwan. Jika melihat keaiban seseorang ikhwan, segera katakan pada diri sendiri: “jangan jangan ini juga terjadi pada diri saya”, sesungguhnya setiap mukmin itu adalah cermin bagi sesamanya yang lain.
Jika terjadi pertikaian atau perselisihan di antara sesama ikhwan, damaikanlah. Jangan sekali kali mernihak kepada salah satu dari padanya. Damaikan dengan kelembutan dan persahabatan. Jangan sekali kali menyudutkan salah satunya. Jadilah teman yang baik pada setiap saat dan keadaan, dan jangan lupa berdo’a untuk ikhwan, agar Allah senantiasa menaburkan rahmat, ampunan dan ridlo selamanya.
Hendaknya memberikan tempat duduk di setiap majelis kepada ikhwan dengan tulus dan penuh perhatian. Tidak berpaling dan mereka, dan senantiasa mendukung mereka secara moral, dan kalau bisa secara material. Menjaga martabat dan kehormatan sesama ikhwan adalah suatu kewajiban termulia. Apabila berjanji penuhilah, karena janji adalah hutang. Siapa yang tidak memenuhi janji, Allah tidak akan pernah memenuhi janji Nya kepada hamba itu. Menyalahi janji adalah termasuk nifak. Menyalahi janji juga merusak persahabatan. Merusak janji akan menimbulkan saling benci dan tidak percaya.
Tradisi dan akhlak tarekat juga clipelihara dengan meneguhkan tatakrama adab dan sopan santun kepada diri sendiri. Tidak berbuat sesuatu yang menjadikan dirinya tercela dan mengecewakan. Tidak memelihara sikap dan perilaku tidak terpuji, menjatuhkan martabat dan kehormatan, serta cacat akhlak yang tak termaafkan. Karenanya, jika berjanji dipenuhi, dan jika dipercaya tidak khianat. Jika bergaul dengan orangtua, hormat kepadanya, dan jika bergaul dengan yang muda, cintakasih kepadanya, jika terlanjur jatuh pada kata dan perbuatan yang tidak pantas, segera sadar dan menjauh.
Hendaknya selalu bersikap dan berperilaku sesuai dengan nilal, moral, dan etik. Menyadari bertatakrama secara sopan, dan adab . Sadar bahwa Allah senantiasa hadir dan bertahta di jantung hati sanubarinya. Allah melihat seluruh gerak hati dan jiwanya. Ingat kepada Allah adalah pakaian kesehariannya. Karena ingat kepada Allah bermakna liputan cahaya Nya bagi dirinya di tengah tengah masyarakat lingkungannya.
Ia senantiasa bergaul dengan orang orang baik dan saleh. Bergaul dengan orang saleh dan baik memiliki aksi dan refleksi pancaran kebaikan yang tak terhingga. Selanjutnya tidak boleh bergaul dengan orang yang jelek perilakunya. Bergaul dengan orang yang berperilaku jelek, akan melahirkan penyimpangan dan kecenderungan perilaku yang makin jelek. Sesungguhnya, setiap pergaulan apapun mesti mempengaruhi dan membentuk akhlak dari sikap dan perilakunya.
Hendaknya tidak berlebih lebihan dalam segala hal. Utamanya, tidak berlebih lebihan dalam makan, minum, berpakaian, dan berhubungan badan dengan isteri. Setiap hal yang berlebihan, akan menyebabkan kerasnya hati, tumpulnya pikiran, tidak tajamnya ‘ain basyirah (mata batin), tidak jernihnya jiwa, serta malasnya anggota badan untuk beribadah. Mata akan buta, telinga akan tuli, ketajaman jiwa akan tumpul terhadap setiap nasehat.
Jika suatu saat merasa berat melaksanakan ketaatan dan ibadah kepada Allah, hendaknya berusaha untuk membangkitkan rasa sadar dan yakin diri, bahwa payahnya kehidupan di dunia ini, adalah sangat pendek waktunya, ketimbang dengan pertanggungjawaban kelak yang harus dipikul di akhirat.
Demikianlah moralitas dan etika tarekat, yang senantiasa harus dipelihara, agar tetap terjaganya tradisi dan akhlak tarekat, senantiasa tetap bersumber dari, dan bermuara kepada tasawuf yang menyatu dan bersatu dasar dengan tradisi dan akhlak kenabian.
Berbagai tarekatberkembang di dunia Islam, diantaranya tarekat yang mempunyai pengaruh besar sampai saat ini seperti: tarekat al Qadiriah yang didirikan oleh Syekh al Qadir al Jailani yang lahir pada tahun 470 H, dan meninggal pada tahun 561 H di Bagdad; tarekat Rifa’iyah yang didirikan oleh Syekh Ahmad al Rifa’iyah yang berasal dari sebuah kabilah Arab, yaitu Bani Rifa’ah, ia meninggal pada tahun 578 H; Tarekat asy Syadziliyah yang didirikan oleh Abu al Hasan al Syadzili yang berasal dari Syadhilah, Tunisia, ia meninggal pada tahun 686 H; Tarekat Naqsabandiyah yang didirikan oleh Bahauddin Naqsaband al Bukhari (719 791 H); Tarekat al Suhrawardiyah yang didirikan oleh Abu Najib al Suhrawadi (490 565 H), dan Tarekat al Tijanniyah yang didirikan oleh alSyekh Abu al Abbas Ahmad Ibn Muhammad al Tijani (17371815), yang lahir pada tahun 1150 H di ‘Ain Madli, Aljazair.
(selesai)
ReaD MorE...

HILANGKAN SIKAP APRIOROI TERHADAP THAREKAT

1 komentar

Oleh: KH. M. Zein ZA. Bazul Asyhab
Perlu diingat oleh semuanya, baik oleh para sarjana atau profesor sekalipun agar jangan sampai melanggar adat. Karena ketinggian ilmu dalam tharekat tidak menjamin tingginya maqom (kedudukan) di dalam tharekat.
Dalam tharekat ada istilah “al-faidz” (limpahan). Siapa saja orang yang merasa paling bawah, maka dialah yang mendapatkan “al-faidz” tersebut.
Bersyukurlah orang yang sudah lama belajar dzikir (TQN), akan tetapi jangan sampai menepuk dada “Saya kan sudah 15 tahun lebih masuk tharekat, sedang Anda baru kemarin”. Karena terkadang orang yang belajar dzikir dengan ikhlas (walaupun baru) mampu melaksanakan perjalanan jauh dari bumi sampai ke Alam Lahut menembus Alam Malakut dan Jabarut dalam sekejap. Dimana kalau dilaksanakan oleh orang lain mungkin memerlukan waktu puluhan tahun.
Oleh karena itu didalam belajar tharekat tidak ada istilah depan-belakang. Mari kita belajar bertawadhu. Sehingga semakin dekat kita kepada Allah, maka kita semakin merasa jauh dari Allah. Semakin tinggi kedudukan kita, aka semakin merasa rendahlah kedudukan kita. Semakin kita bersih, maka semakin kita merasa lebih kotor. Karena orang yang tidak mengetahui dan tidak merasa kotor dirinya, maka dia tidak mau membersihkan diri.

Cobalah kita perhatikan orang gila yang memakai pakaian jelek dan kotor dilihat dhohirnya. Maka ketika kita tanya mengapa memakai pakaian jelek dan kotor, malah mungkin dia menjawab “Pakaian sebaik ini disebut kotor”. Jadi orang yang kotor tetapi tidak merasa kotor itulah sebenarnya orang gila. Sebaliknya orang yang merasa gila itu adalah orang sehat.
Ilmu dalam Islam itu benyak dan sangat luas. Dimanakah kita menemukannya ? Kita dapat menemukannya dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah. Seluas apakah ilmu yang ada dalam Al-Qur’an itu ? Tidak bisa dibatasi, karena (syummul) mencakup semua isi kehidupan manusia, hewan, fauna, serta seluruh alam. Sebagaimana penegasan Allah dalam Al-Qur’an : “…tiadalah Kami alpakan sesuatupun di dalam al-Kitab (Al-Qur’an) …” (Al-An’am : 38).
Begitu juga hadits Rosul sangat luas, walaupun tidak semuanya tercatat. Bersyukurlah orang yang bisa membaca dan memahami Shohih Bukhori 4 jilid misalnya, yang disyarahkan oleh “kastholani” dan “Fathul Bari”, serta sunan-sunan yang tujuh dan lainnya.
Akan tetapi kalau ada orang yang mengatakan suatu hadits yang tidak ditemukan dalam kitab hadits yang kita miliki, maka jangan dulu mengatakan : “Hadits itu dhoif, Laa ashla lahu (tidak ada asal usulnya)”. Mengapa ini perlu dijelaskan ? Karena kita mengetahui secara persis bahwa hadits yang banyak digunakan oleh Ahli Tasawuf seperti Imam Ghazali adalah kitabnya “Ihya Ulumuddin” banyak diberi catatan kaki dengan perkataan : “Laa Ilaaha ashla lahu (tidak ada asal usulnya hadits ini). Karena penulisnya tidak menemukan hadits yang dimaksud dalam kitab seperti Bukhori atau lainnya.
Padahal tidak semua yang diucapkan oleh Baginda Rasul dicatat, dikarenakan Rasul tidak mempunyai petugas khusus yang membawa handycam (perekam) kemana-mana.
Selain itu penulisan hadits itu hampir seratus tahun setelah Rasul wafat (Abad ke-2 H). Apalagi penulis hadits seperti Bukhari sangat berhati-hati dalam menulisnya. Sehingga adakalanya matanya sangat pendek sekali, sedangkan rawinya sangat panjang sekali.
Mengapa berbicara demikian ? Karena banyak orang yang membid’ahkan tharekat, mereka mengatakan “tidak ada dari Rasulnya dan tidak ada dalam haditsnya”. Apakah memang tidak ada dalam haditsnya atau mereka belum menemukannya ? apalagi yang belum ditemukan haditsnya, sedangkan yang sudah ditemukan saja susah untuk memahaminya secara betul. Contohnya seperti hadits : “Al-Mukmin mir-atu al-mukmin”. Selama ini maknanya bahwa kita harus menjadi cermin kepada orang lain, sehingga jangan menyakiti orang lain karena kitapun pasti sakit. Akan tetapi setelah dibaca “Sirrul Asror” Astagfirullah salah. Makna yang benar adalah al-mukmin pertama adalah hati orang mukmin itu harus seperti Al-Muhaemin (Allah SWT).
Ahli Tasawuf mempunyai teknis yang lain. Dikarenakan kholwat dan ibadahnya sangat bagus, maka Allah sangat ridho kepadanya, juga para Rasul sangat menyenanginya, para ahlinya sangat dekat dengannya. Sehingga Ahli Tasawuf atau orang yang tasawufnya sudah benar sering didatangi Rasul secara langsung. Pada saat pertemuan rohani seperti itulah seorang sufi bertanya kepada Rasul : “Berilah wasiat atau bertanya “Apakah ini kalammu ya Rasul ?”.
Sehingga dalam kitab tasawuf banyak hadits yang dicari dalam Bukhori tidak ditemukan, dikarenakan Bukhori memang tidak menulisnya.
Jadi jangan mudah membid’ahkan sesuatu yang belum mengerti betul seperti tharekat. Anda yang membid’ahkan tharekat , suka merokok tidak ? “Kalau suka, apakah Rasul merokok Gudang Garam atau 123 ? Kalau Rasul tidak merokok, berarti merokok bid’ah. Maka setiap bid’ah dholalah dan dalam neraka.
Oleh karena itu mari kita kembali kepada prinsip “Untuk apakah dzikir ?”. Dzikir adalah untuk membersihkan hati. Karena semakin kita tua, maka semakin besar dan tebal dosa kita. Dosa model lama belum ditinggalkan, sudah ditambah dosa model baru yang sering dilaksanakan. Contohnya : dulu selalu menjelekkan orang lain, sekarang masih suka. Sekarang ditambah TV/Film yang menayangkan porno, apakah dosa ? Ini baru dosa dhohir, belum lagi dosa bathin yang cikal bakalnya ada 7 : sombong, dengki, jelek adab, pemarah, tamak, malas, bathil.
Apakah dosa bathin itu ada dalam diri kita ? Fir’aun adalah sombong, apakah kita menjadi anak buahnya tidak ? Merasakah diri kita sombong ? Karena menurut Tanbih bahwa orang yang belajar dzikir itu perlu merasa dan merasakan. Inilah sebetulnya Fadhilah Allah (Keutamaan Allah) yang disimpan di PP. Suryalaya.
Seperti kalau kita bekerja diseseorang. Suatu hari dia (bos kita) datang dan kebetulan kita sedang bermain layang-layang diwaktu seharusnya bekerja. Akhirnya Bos kita berkata : “Kamu harus bekerja dengan betul!”. Malah kita menjawab : “Terserah saya saja, jangan ikut mengatur”. Coba anda ambil kesimpulan “Apakah kita itu seorang pekerja yang baik atau bukan ? Apakah kita pegawai sombong ?” berarti kita persis seperti Fir’aun.
Pernahkah kita ketika sedang enak bekerja atau bermain, lalu terdengar adzan terus saja bekerja atau bermain ? Walau tidak diucapkan, tetapi sikap Anda yang tidak peduli kepada Adzan berarti sama seperti berkata kepada Allah : “Hai Allah ! Jangan ikut mengatur ? Sedang enak kita kerja (main) malah disuruh sholat”. Pernahkah anda mengakhir-akhirkan sholat ? Berarti kita ini sombong dan menjadi anak buah Fir’aun. Sehingga oleh Fir’aun dianggap anak buah karena sombong, oleh Qorun juga dianggap abak buah karena bakhil. Merasakah kita ? Apakah perlu kita perbaiki atau tidak ? Disinilah pentingnya dzikir dan tharekat agar kita mampu membersihkan penyakit hati.
ReaD MorE...

 
Minima 4 coloum Blogger Template by Beloon-Online.
Simplicity Edited by Ipiet's Template